Masa Kanak-Kanak Memasuki Masa Sekolah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kalau kita perhatikan dan mengikuti secara seksama perkembangan seorang anak dari kecil hingga dewasa atau dari lahir sampai meninggal, ternyata mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupannya.

Anak lahir dengan segala keunikan potensi, yang antara satu dengan yang lainnya tidaklah sama, bahkan anak kembar sekali pun, maka dari itu pemberian pendidikan anak usia dini, sangatlah penting diberikan pada masa kanak-kanak untuk dijadikan bekal dalam memasuki masa sekolah.

Sehingga, masa kanak-kanak merupakan suatu masa yang menarik dan hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia. Jadi sangatlah penting untuk diperhatikan guna gemilangnya masa depan anak, misalnya dengan cara merangsang pertumbuhan otak anak melalui perhatian kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan.

1.2  Tujuan

Setiap kegiatan akan berhasil apabila mempunyai tujuan yang jelas. Sehubungan dengan hal tersebut, adapun tujuan makalah ini adalah untuk menemukan, mengembangkan, dan untuk menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan. Menemukan berarti memperluas dan menggali lebih dalam apa yang sudah ada, sedangkan menguji kebenaran dilakukan jika sudah ada (dalam, Sutrisno Hadi,1982:3).

Berdasarkan latar belakang di atas, maka adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui perkembangan anak.
  2. Bagaimana peranan masa kanak-kanak dalam memasuki masa sekolah.
  3. Bagaimana peran orang tua dalam mendidik dan memberikan contoh yang baik terhadap anak dalam masa kanak-kanak untuk memasuki masa sekolah.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Masa Kanak-Kanak

Masa kanak-kanak adalah suatu masa yang menarik, tidak hanya bagi anak-anak itu sendiri, namun juga bagi remaja dan orang dewasa. Dalam masa ini, bermain menjadi kegiatan yang serius (dalam, Bruner). Sedangkan Hurlock sendiri menggambarkan bahwa masa awal kanak-kanak sering disebut sebagai tahap mainan karena semua permainan menggunakan mainan. Menjelang akhir masa awal kanak-kanak, minatnya untuk bermain dengan mainan mulai berkurang dan ketika ia mencapai usia sekolah mainan-mainan itu dianggap seperti “bayi” dan ia ingin memainkan permainan-permainan “dewasa”.

Pada saat ini, secara luas diketahui bahwa masa kanak-kanak harus dibagi menjadi dua periode yang berbeda. Awal dan akhir masa kanak-kanak. Periode awal berlangsung dari umur dua sampai enam tahun dan periode akhir dari enam sampai tiba saatnya anak matang secara seksual. Dengan demikian awal masa kanak-kanak dimulai sebagai penutup masa bayi, usia dimana ketergantungan secara praktis sudah dilewati, diganti dengan tumbuhnya kemandirian dan berakhir disekitar usia masuk sekolah dasar.

Dalam setiap tahap perkembangan ada ciri-ciri khusus yang ada pada setiap tahap perkembangan, begitu juga pada saat masa kanak-kanak awal ditandai dengan ciri-ciri tertentu, ciri itu tercermin dalam sebutan yang biasa diberikan oleh orang tua, pendidik dan ahli psikologi (dalam Hurlock 1980:108). Sebagian besar orang tua menganggap awal masa pada kanak-kanak sebagai usia yang mengundang masalah atau usia sulit, karena pada masa kanak-kanak awal ialah anak-anak sedang mengembangkan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan yang pada umumnya kurang berhasil. Sedangkan para pendidik menyebut usia awal kanak-kanak sebagai usia prasekolah, usia prasekolah adalah usia yang belum memasuki usia sekolah atau masih berada di Taman Kanak-Kanak (TK). Para psikologi menyebut masa kanak-kanak dengan menggunakan istilah usia kelompok, masa dimana anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk kelas satu. Banyak ahli psikologi yang melabelkan awal masa kanak-kanak sebagi usia menjelajah, sebuah label yang menunjukkan anak ini mengetahui keadaan lingkungannya. Salah satu cara yang umum dalam menjelajah lingkungan adalah dengan bertanya, jadi periode ini adalah meniru pembicaraan dan perilaku orang lain.

Pada masa usia prasekolah ini dapat diperinci menjadi dua masa, yaitu masa vital dan masa estetik (dalam, Yusuf 2002). Masa vital yaitu individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya.  Sedangkan masa estetik adalah masa perkembangan rasa keindahan.

Setelah masa kanak-kanak ini berakhir, maka seorang anak akan memasuki masa puber yang bisa terjadi usia yang tidak sama antara anak yang satu dengan yang lainnya. Masa puber ini berlangsung cukup singkat dan menjadi masa peralihan antara masa akhir kanak-kanak dan masa awal remaja.

2.2 Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam Masa Kanak-Kanak

Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Berbagai hasil penelitian menyebutkan bahwa masa usia dini merupakan periode emas bagi perkembangan anak dimana 50% perkembangan kecerdasan terjadi pada usia 0 – 4 tahun, 30% berikutnya hingga usia delapan tahun. Periode emas ini sekaligus merupakan periode kritis bagi anak dimana perkembangan yang didapatkan pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan pada periode berikutnya hingga masa dewasanya. Periode ini hanya datang sekali dan tidak dapat ditunda kehadirannya, sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya. Hal inilah nampaknya yang masih banyak disia-siakan oleh sebagian besar masyarakat. Kurangnya anak usia dini yang mendapatkan layanan pendidikan disebabkan beberapa faktor diantaranya: (1) kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan pada anak usia dini; (2) masih terbatas dan tidak meratanya lembaga layanan PAUD yang ada di masyarakat terutama di pedesaan. Sebagai contoh pertumbuhan TK, KB/RA, dan TPA di perkotaan lebih pesat dibandingkan di pedesaan; (3) rendahnya dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini.

Pada periode kritis ini anak memerlukan berbagai asupan terutama yang mencakup aspek gizi, kesehatan, dan pendidikan yang merupakan pilar utama pengembangan anak usia dini, mengingat ketiga aspek ini sangat besar pengaruhnya terhadap kualitas anak di kemudian hari. Kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan kesehatan bagi anak lebih tinggi daripada kesadaran akan pentingnya pendidikan. Padahal penanganan masalah gizi dan kesehatan saja tidak cukup, melainkan harus dilengkapi pula dengan penanganan pendidikannya sebagai kesatuan yang utuh dan terpadu.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat penting dan mendasar sebab merupakan hulu dalam pengembangan sumber daya manusia. Periode emas (Golden Period) dalam tumbuh kembang anak hanya terjadi sekali dalam kehidupan manusia yang dimulai sejak lahir hingga usia delapan tahun. Akibatnya, berdampak terhadap kesiapan anak memasuki jenjang persekolahan.

2.3  Peranan Masa Kanak-Kanak dalam Memasuki Masa Sekolah

Masa kanak-kanak memegang peranan yang sangat penting dan mendasar dalam memasuki masa sekolah. Sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal, dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain (dalam, Bruner dan Donalson).

Bermain adalah hak anak yang harus dipenuhi. Bermain bagi seorang anak adalah saat dimana ia bisa mengekspresikan semua potensi yang ada dalam dirinya. Dengan demikian, anak yang  semasa kecil ha-hak bermainnya tidak dipenuhi karena berbagai alasan, berarti ia telah kehilangan masa anak-anaknya.

Di dalam bermain seorang anak akan beajar berkomunikasi dengan orang lain (atau bayangan orang lain), menjelajah lingkungan hidup, belajar bersosialisasi, belajar kedisiplinan, kejujuran, kerjasama, saling membantu bagi yang membutuhkan, serta belajar kasih sayang dengan orang lain. Tiada kegiatan paling penting bagi seorang anak kecuali bermain. Melarang bermain berarti melarang menjadi anak.

Peran Taman bermain menjadi amat penting posisinya, yaitu menjembatasi anak dalam masa transisi dari masa anak-anak ke dalam masa  bersekolah. Tugas guru adalah menyediakan ruang ekspresi bagi anak. Oleh karena itu Taman Kanak-kanak akan lebih memiliki arti bagi perkembangan anak apabila banyak memiliki fasilitas bermain. Mengajarkan kejujuran dan kedisiplinan tidak mungkin hanya dengan ceramah, dipastikan tidak akan menghasilkan apa-apa. Bermain peran, adalah metode yang jauh lebih cocok untuk target tersebut.

Taman Kanak-Kanak bukan sekolah dengan administrasi ketat. TK adalah taman bermain yang harus dikondisikan seperti di rumah dengan memberikan stimulus agar anak mulai belajar mandi sendiri, makan sendiri, mencuci tangan, berimajinasi dan sebagainya. Anak taman kanak-kanak termasuk dalam kelompok umum prasekolah. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain. Di taman kanak-kanak, anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa, terutama dalam kosa kata. Hal yang menarik, anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. Sehubungan dengan ciri-ciri di atas maka tugas perkembangan yang diemban anak-anak adalah:

  1. Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain.
  2. Membangun sikap yang sehat terhadap diri sendiri
  3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman sebaya
  4. Mengembangkan peran sosial sebagai lelaki atau perempuan
  5. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan dalam hidup sehari-hari
  6. Mengembangkan hati nurani, penghayatan moral dan sopan santun
  7. Mengembangkan keterampilan dasar untuk membaca, menulis, matematika dan berhitung
  8. Mengembangkan diri untuk mencapai kemerdekaan diri.

Dengan adanya tugas perkembangan yang diemban anak-anak, diperlukan adanya pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi anak-anak yang selalu “dibungkus” dengan permainan, suasana riang, enteng, bernyanyi dan menari.

Demikian pula, selain dari Taman Kanak-Kanak pengajaran perilaku dan budi pekerti anak juga didapatkan dari sikap keseharian orang tua ketika bergaul dengan mereka. Bagaimana ia diajarkan untuk memilih kalimat‑kalimat yang baik, sikap sopan santun, kasih sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka diajarkan untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan.

Selain itu orang tua mempunyai tiga peran penting dalam kemajuan anak-anaknya, yaitu : orang tua sebagai fasilitator yaitu menyediakan lingkungan dan sarana belajar anak untuk mengembangkan potensinya. Kedua, orang tua sebagai motivator. Peran ini dilakukan dengan memberikan dorongan dan dukungan bagi berbagai hal yang menjadi minat seorang anak. Ketiga, orang tua sebagai inisiator, yaitu contoh atau teladan bagi anak-anaknya.

Dalam keluargalah anak pertama kali mendapatkan pengalaman belajarnya dimana diketahui bersama bahwa keluarga merupakan tempat belajar di luar sekolah. Di dalam kehidupan keluarga ini terjadi interaksi, di dalamnya berupa transmisi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai, dan kebiasaan. Pada dasarnya kegiatan tersebut menjadi akar untuk tumbuhnya perbuatan mendidik yang dikenal dewasa ini (Sudjana, 2001:63).

Kesimpulannya, potensi dasar untuk membentuk generasi berkualitas dipersiapkan oleh keluarga. Masyarakat menjadi lingkungan anak menjalani aktivitas sosial dan mempunyai peran yang besar dalam mempengaruhi baik buruknya proses pendidikan, karena anak satu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Interaksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan dan berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara fisik maupun biologis. Oleh sebab itu masalah‑masalah yang akan dihadapi anak ketika berinteraksi dalam masyarakat harus difahami agar kita dapat mengupayakan solusinya. Disinilah peran masyarakat sebagai kontrol sosial untuk terwujudnya generasi ideal. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup generasi tidak saja para tetangganya tetapi juga termasuk sekolah dan masyarakat dalam satu negara. Karena itu para tetangga, para pendidik dan juga pemerintah sebagai penyelenggara urusan negara bertanggung jawab dalam proses pendidikan generasi, agar generasi memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Maka akan berdampak terhadap kesiapan anak memasuki jenjang persekolahan.

2.4 Masa Sekolah

Dalam berbagai literatur kita dapati berbagai pendekatan dalam menentukan tahapan perkembangan individu, diantaranya adalah pendekatan didaktis. Tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis (dalam,Syamsu Yusuf 2003) adalah sebagai berikut :

1.  Masa Usia Sekolah Dasar

Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah.

2.  Masa Usia Sekolah Menengah

Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja, yang terbagi ke dalam 3 bagian yaitu :

  1. masa remaja awal; biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif, dalam jasmani dan mental, prestasi, serta sikap sosial,
  2. masa remaja madya; pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya.
  3. masa remaja akhir; setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja, yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa.
  4. 4. Masa Usia Kemahasiswaan (18,00-25,00 tahun)

Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya, yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup.

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Masa kanak-kanak dari usia 0 – 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia.

Periode emas ini sekaligus merupakan periode kritis bagi anak dimana anak memerlukan berbagai asupan terutama yang mencakup aspek gizi, kesehatan, dan pendidikan yang merupakan pilar utama pengembangan anak usia dini yang besar pengaruhnya terhadap kualitas anak di kemudian hari. Akibatnya, berdampak terhadap kesiapan anak memasuki jenjang persekolahan.

Jadi peranan masa kanak-kanak sangatlah penting dalam memasuki masa sekolah, karena masa kanak-kanak hanya terjadi satu kali dalam kehidupan seseorang.

Saran

Dengan adanya makalah ini kami menyarankan kepada para pembaca agar makalah ini dapat dijadikan pedoman atau acuan oleh para pembaca supaya lebih bisa memahami pentingnya peran masa kanak-kanak dalam memasuki masa sekolah. Serta mengetahui peran orang tua dalam mendidik anaknya pada masa kanak-kanak guna suksesnya masa depan anak.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulhak, Ishak. 2002. “Memposisikan Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Sistem Pendidikan Nasional”. Surabaya: Usaha Nasional

Direktorat Tenaga Teknis. 2003. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 0 – 6 Tahun. Jakarta: Ditjen PLSP – Depdiknas

Henry N, Siahan. 1986.  Peranan Ibu Bapak Mendidik Anak. Bandung: Angkasa

Hurlock, Elizabeth B.1988. Perkembangan Anak. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s