Kenakalan Remaja Sebagai Prilaku Menyimpang

BAB I

PENDAHULUAN

1.       Latar Belakang

Masalah sosial yang dikategorikan dalam perilaku menyimpang diantaranya adalah kenakalan remaja. Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial.

Pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu, tetapi mengapa pada kebanyakan orang tidak menjadi kenyataan yang berwujud penyimpangan, sebab orang dianggap normal biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk menyimpang, tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian, Becker (dalam, Soerjono Soekanto : 1988,26).

Pada umumnya, masyarakat yang mengalami gejala disorganisasi sosial, norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku.

2.       Tujuan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui konsep kenakalan remaja dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kenakalan remaja.
  2. Untuk mengetahui hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1. Konsep Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja didefinisikan sebagai perilaku menyimpang atau tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (dalam, Kartono: 2003). Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan” (dalam, Kartini Kartono 1988: 93)

Dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu :

(1)   Kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diatur dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum;

(2)  Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa.

Menurut bentuknya, kenakalan remaja dapat di golongkan ke dalam tiga tingkatan yaitu :

(1)   Kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit.

(2)   Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin.

(3)   Kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, tawuran antar pelajar, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll, (dalam. Sunarwiyati S: 1985).

2.  Definisi Kenakalan Remaja Menurut Para Ahli

  • · Kartono, ilmuwan sosiologi

Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.

  • Santrock

“Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”

3.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja

1.    Keluarga

Lingkungan keluarga sesungguhnya sangat besar pengaruhnya terhadap kenakalan remaja, misalnya mereka sering menyaksikan atau mendengar hal-hal yang kurang serasi dalam keluarganya. Apabila suasana keluarga yang kurang serasi dan kurang memberikan jaminan bagi pertumbuhan pribadi yang sehat pada masa kanak-kanaknya itu, tidak diperbaiki sampai mereka mencapai usia remaja, maka akan terjadilah kesukaran yang sulit baginya untuk mengatasi dengan cara yang wajar dan sehat.

Pada umumnya para remaja sangat mengharapkan perhatian, pengertian dan penghargaan orang tuanya di samping kasih sayang yang wajar, tetapi ketika orang tua otoriter, maka yang kita sebut sebagai kenakalan remaja akan muncul dalam artian ingin memberontak. Sementara kalau orang tua permisif, remaja malah akan mencari-cari perhatian dengan segala tingkah lakunya yang kemungkinan besar menjurus ke kenakalan remaja. Bahkan, orang tua yang demokratis sekalipun.

2.    Pergaulan

Pada masa remaja, dimana pertumbuhan jasmani dan perhatian kepada pengembangan pribadi dan sosial meningkat. Mereka akan sangat terpengaruh oleh pergaulan atau teman-teman sebayanya dan lingkungan sosial ekonomi di mana mereka hidup.

Apabila para remaja melihat adanya perbedaan antara nilai-nilai moral dan agama yang mereka pelajari dengan kenyataan dalam masyarakat, maka mereka akan merasa gelisah dan tidak senang. Apalagi kalau mereka melihat adanya kepincangan-kepincangan antara golongan-golongan dalam masyarakat. Kekacauan yang berulang-ulang terjadi akan menyebabkan timbulnya rasa frustasi dalam hati mereka. Karena itulah maka dalam masyarakat yang keadaan sosial ekonominya menunjukkan banyak kepincangan, akan sering timbul tindakan-tindakan remaja yang kadang-kadang menyimpang dari nilai-nilai moral atau yang lebih dikenal sebagai kenakalan remaja.

3.    Remaja Itu Sendiri

Pada hakikatnya apa yang dilakukan oleh seorang remaja ketika mencoba menarik perhatian dari orang tua terlebih lagi teman, adalah untuk memuaskan diri remaja itu sendiri. Memuaskan di sini bukan hanya dalam arti negatif saja. Namun, demi memuaskan obsesinya itu, sering malah ”keterlaluan” dan ”berlebihan”.

Apa pun yang terjadi kalau memang remaja tersebut punya ‘hati yang besar’ menyadari bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan ’perhatian itu’, pasti dia bisa untuk tidak terperosok ke dalam jurang kenakalan remaja.

Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka berada pada masa transisi.

Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).

a.    Faktor internal :

1.    Krisis Identitas

Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan Remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

2.    Kontrol Diri yang Lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

b. Faktor eksternal :

  1. Keluarga

Perceraian orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

  1. Teman sebaya yang kurang baik
  2. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
  3. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
  4. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
  5. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
  6. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orang tua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
  7. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

4.    Hal-hal yang Bisa Dilakukan Untuk Mengatasi Kenakalan Remaja :

BAB III

PENUTUP

1.      Kesimpulan

Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Kenakalan remaja bisa terjadi karena faktor keluarga, pergaulan, dan dirinya sendiri.

Kenakalan remaja dapat dicegah dengan beberapa usaha. Di antara usaha yang sangat penting dan dapat dilaksanakan oleh setiap orang tua, guru, atau para pemimpin masyarakat, adalah menciptakan ketentraman batin bagi remaja.

2.      Saran

Dengan adanya makalah ini kami menyarankan kepada :

  1. Orang tua yang mempunyai anak remaja atau yang sedang memasuki masa remaja hendaknya dapat memberikan perhatian dan bimbingan yang sesuai dengan ajaran agama kepada anak-anaknya agar tidak terjerumus pada hal-hal yang negatif.
  2. Setiap orang tua menjaga keutuhan keluarga, maka saling mengerti, menghargai dan mencintai antara ibu – bapak harus terujud secara nyata, supaya dirasakan oleh anak-anaknya.
  3. Guru-guru dan sekolah pada umumnya, hendaknya dapat pula secara sungguh-sungguh membantu pembinaan mental si anak.

DAFTAR PUSTAKA

Kartini, Kartono.1986. Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali

Daradjat, Zakiah. 1989. Pembinaan Remaja. Jakarta: Mutiara Offset

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s