Usulan PTK Bangun Ruang

BAB I

PENDAHULUAN

1.  Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dalam masyarakat, bangsa dan negara.

Berbagai usaha pembaharuan kurikulum, perbaikan sistem pengajaran, peningkatan kualitas kemampuan guru, dan lain sebagainya, merupakan suatu upaya ke arah peningkatan mutu pembelajaran. Banyak hal yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut, salah satunya adalah bagaimana cara menciptakan suasana belajar yang baik, mengetahui kebiasaan dan kesenangan belajar siswa agar siswa bergairah dan berkembang sepenuhnya selama proses belajar berlangsung. Untuk itu seharusnya guru mencari informasi tentang kondisi mana yang dapat meningkatkan pembelajaran di sekolah dasar.

Permasalahan yang umum terjadi di SD adalah rendahnya hasil belajar matematika siswa. Hal ini terbukti bila diadakan ulangan harian per pokok bahasan selalu hasil belajar matematika di bawah rata-rata mata pelajaran lainnya. Hasil belajar matematika siswa lebih rendah lagi pada pokok bahasan luas permukaan bangun ruang. Luas permukaan bangun ruang adalah jumlah luas seluruh sisi-sisi bangun ruang. Materi ini merupakan materi yang sulit bagi siswa.

Beberapa kemungkinan penyebab rendahnya hasil belajar siswa dalam materi luas permukaan bangun ruang adalah:

a.         Materi luas permukaan bangun ruang bersifat abstrak. Siswa sukar membedakan antara sisi pada bangun datar dengan sisi pada bangun ruang.

b.        Tidak mantapnya konsep tentang luas bangun datar.

c.         Penggunaan media yang kurang tepat atau tidak menggunakan media sama sekali yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Padahal media amat penting dalam pembelajaran matematika. Higgis dalam Ruseffendi (1993: 144) mengatakan bahwa keberhasilan 60 % lawan 10 % bila menggunakan media dibandingkan dengan tidak menggunakan media.

Untuk mengatasi permasalaha di atas, langkah yang perlu dilaksanakan adalah dengan menggunakan media. Media tersebut bernama media bangun ruang yang dapat membelajarkan siswa secara optimal.

Penggunaan media dapat dimanipulasikan, media merupakan lingkungan belajar yang sangat menunjang untuk tercapainya optimalisasi dalam pembelajaran, karena media merupakan jembatan belajar yang awalnya terdapat benda-benda konkret seperti pengalaman anak. Pada jembatan selanjutnya terdapat semi konkret seperti benda-benda tiruan. Berikutnya lagi terdapat semi abstrak berupa gambar-gambar, dan selanjutnya terdapat abstrak berupa kata-kata.

Melalui media bangun ruang materi yang bersifat abstrak dapat menjadi konkret. Siswa akan mengetahui dan melihat komponen – komponen bangun ruang Dengan perantara media inilah siswa dapat membedakan antara sisi pada bangun datar dan sisi pada bangun ruang. Selain itu dengan media siswa dapat melihat secara langsung bentuk-bentuk sisi dan sekaligus mengingat kembali tentang luas-luas bangun datar .

Selanjutnya Rahmanelli (2005:237) menyatakn apabila anak terlibat dan mengalami sendiri serta ikut serta dalam proses pembelajaran maka hasil belajar siswa akan lebih baik, disamping itu pelajaran akan lebih lama diserap dalam ingatan siswa.

2. Permasalahan

a. Perumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas maka perumusan masalah yang akan dikemukakan adalah : Bagaimana hasil belajar siswa SD kelas VI setelah menggunakan media bangun ruang ?

 

b. Pemecahan Masalah

Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dapat digunakan media sehingga anak terlibat secara langsung dan pelajaran akan lebih lama diserap dalam ingatan anak.

3.    Tujuan Penelitian

3.1 Tujuan Umum

Agar dapat mengkongkritkan pembelajaran dan dapat melibatkan siswa dalam pembelajaran matematika sehingga pembelajaran lebih bermakna bagi siswa.

3.2 Tujuan Khusus

Untuk mengetahui apakah dengan menggunakan media dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

4.    Manfaat Penelitian

4.1 Bagi siswa

Meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika sehingga hasil belajarnya juga meningkat.

4.2 Bagi Guru

Sebagai pedoman untuk melaksanakan pembelajaran dan dapat mengoptimalkan penggunaan media dalam pembalajaran metematika.

4.3 Bagi Sekolah

Peningkatan hasil belajar matematika akan meningkatkan juga citra sekolah dimata masyarakat.

4.4 Bagi Penulis

Pengalaman yang berharga untuk melaksankan tugas dimasa yang akan datang.

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

Deskripsi Teori

Suatu proses dan hasil penelitian dianggap ilmiah apabila didukung oleh sistem dan pendekatan yang bersifat objektif. Selain itu teori-teori yang mendukung proses penelitian tersebut memiliki sumbangan yang tinggi terhadap kwalitas hasil penelitian. Penelitian ini dilandasi pada teori-teori sebagai berikut:

1.    Belajar dan Hasil Belajar

a.  Pengertian Belajar

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Menurut teori tradisional belajar adalah menambah atau mengumpulkan sejumlah pengetahuan (Nasution, 1986: 67). Sedangkan belajar dalam pandangan teori modern adalah: ”a change in behaviour” atau perubahan kelakuan (Nasution, 1986: 67). Menurut Gagne, belajar merupakan kegiatan yang kompleks (Dimyati dan Mudjiono, 1994: 9). Setelah belajar orang akan mengalami perubahan baik keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Menurut teori belajar Operant Conditioning oleh Skinner memandang belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif (Suarni, 1996: 70). Menurut Skinner, jika suatu respon atau tingkah laku diikuti oleh hadiah atau penguatan, maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut akan besar (Koeswara, 1989: 130). Dari uraian di atas konsep penting teori belajar Skinner adalah bahwa jika kita ingin mengubah perilaku seseorang dari yang tidak diharapkan menjadi yang diharapkan, maka mulailah dengan memberikan funisment terhadap perilaku yang tidak diharapkan.

Berdasarkan teori-teori belajar di atas dapat disimpulkan belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Pengetahuan tersebut di atas dibentuk oleh individu itu sendiri berupa pengetahuan fisik, logika, dan sosial.

bPengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam kegiatan belajar mengajar selama kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam bentuk angka atau nilai (Sunartana, 1997: 8). Sunartana menekankan pengertian hasil belajar pada asfek nilai pada kegiatan belajar mengajar. Hasil belajar merupakan kapabilitas (Dimyati dan Mudjiono, 1994:9). Munculnya kapabilitas tersebut dari (1) Simulasi yang berasal dari lingkungan, (2) Proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar. Hasil belajar terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikapdan siasat kognitif (Dimyati dan Mudjiono, 1994:10).

Darmansyah (2006:13) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa yang ditentukan dalam bentuk angka. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa setelah menjalani proses pembelajaran. Cece Rahmat ( dalam Zainal Abidin. 2004:1 ) mengatakan bahwa hasil belajar adalah “ Penggunaan angka pada hasil tes atau prosedur penilaian sesuai dengan aturan tertentu, atau dengan kata lain untuk mengetahui daya serap siswa setelah menguasai materi pelajaran yang telah diberikan. Nana Sujana ( 1989:9 ) belajar didefinisikan sebagai proses interaksional dimana pribadi menjangkau wawasan – wawasan baru atau merubah sesuatu yang lama.

Jadi hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran melalui peningkatan kemapuan belajar, baik kognitif, psikomotorik maupun afektif.

Selanjutnya peranan hasil belajar menurut Nasrun Harahab ( dalam Zainal Abidin. 2004:2 ) yaitu :

Hasil belajar berperan

a.  Untuk mengetahui keberhasilan komponen – komponen pengajaran dalam rangka mencapai tujuan.

 

b.    Hasil belajar memberikan bahan pertimbangan apakah siswa diberikan program perbaikan, pengayaan atau melanjutkan pada program pengajaran berikutnya.

c.    Untuk keperluan bimbingan dan penyuluhan bagi siswa yang mengalami kegagalan dalam suatu program bahan pembelajaran.

  1. Untuk keperluan supervise bagi kepala sekolah dan penilik agar guru lebih berkompeten.
  2. Sebagai bahan dalam memberikan informasi kepada orang tua siswa dan sebagai bahan dalam mengambil berbagai keputusan dalam pengajaran.

c.  Ciri-Ciri Hasil Belajar

Dimyati dan Mudjiono (1994: 40) mengatakan bahwa ciri-ciri belajar ada tiga yaitu : (1) hasil belajar memiliki kapasitas berupa pengetahuan, kebebasan, keterampilan, sikap dan cita-cita, (2) adanya perubahan mental dan jasmani, (3) memiliki dampak pengajaran dan dampak pengiring.

Suryo (1997: 83) mengatakan bahwa perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : (a) perubahan yang disadari, (b) perubahan yang bersifat kontinyu (berkesinambungan), (c) perubahan yang bersifat positif, (d) perubahan yang bersifat aktif, (e) perubahan yang bersifat fungsional, (f) perubahan yang bersifat permanen (mantap), (g) perubahan yang bertujuan dan terarah.

Berdasarkan dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri dari hasil belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri individu yang disadari.

d.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : faktor dari dalam individu itu sendiri yang menyangkut bakat, minat, intelegensi, keadaan indera, kematangan dan kesehatan jasmani, dan faktor dari luar individu yang menyangkut pasilitas belajar, waktu, media belajar, cara guru mengajar, dan motivasi (Soemadi Suryabranta, 1981:7).

Nana Sudjana (dalam Tabrani Rusyan, 1992: 21) mengatakan hasil belajar dapat dicapai dipengaruhi dua faktor utama yaitu : faktor dalam diri anda dan faktor yang datang dari luar diri anda atau lingkungan. Faktor dari dalam meliputi kecerdasan, motivasi, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial-ekonomi, faktor fisik dan faktor psikhis, sedangkan dari luar meliputi sistem pengajaran, cara belajar, sumber-sumber belajar, keluarga, media dan teknologi.

Menurut Muhammad Ali (1992 : 15) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu : (1) kesiapan (readnes), (2) kapasitas baik fisik maupun mental untuk melakukan sesuatu, (3) tujuan yang ingin dicapai.

Hasil belajar yang ingin dicapai siswa ditentukan oleh faktor psikologis seperti : kecerdasan, motivasi, perhatian, penginderaan dan cita-cita peserta didik, kebugaran fisik dan mental, serta lingkungan belajar yang menunjang (Tabrani Rusyan, 1993: 32).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah: faktor dari dalam dan faktor dari luar individu, faktor psikologis, serta faktor lingkungan siswa.

2.  Motivasi Belajar

a.    Pengertian Motivasi

Motivasi merupakan suatu keadaan dalam diri individu yang menyebabkan orang melakukan kegiatan tertentu (Wiratma, 2001: 5). Motivasi lebih ditekankan pada keadaan individu dalam melakukan suatu aktivitas. Sardiman (2001: 71) menyatakan bahwa motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.

Motivasi juga dapat diartikan sebagai suatu dorongan yang menyebabkan seseorang untuk berbuat sesuatu (Suarni, 1996: 166). Sadirman dan Suarni lebih menekankan motivasi sebagai daya penggerak.

Nasution (1994: 9) mengatakan ”Motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar”. Sedangkan Djadjuri (1997: 28) menyatakan bahwa ”Motivasi belajar berkaitan erat dengan tujuan yang hendak dicapai oleh individu yang sedang belajar itu sendiri”. Dimyati dan Mudjiono (1994: 72) menyatakan bahwa ”Pada diri siswa terdapat kekuatan mental yang menjadi penggerak belajar”. Penekanannya terletak pada kekuatan mental.

Jadi motivasi adalah dorongan untuk beraktivitas baik dorongan yang datangnya dari dalam diri organisme (hewan maupun manusia), maupun yang datangnya dari luar organisme (lingkungan). Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu untuk melakukan aktivitas belajar.

b. Jenis-jenis Motivasi

Motivasi dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu : motivasi yang datang dari dalam diri individu sendiri, dan motivasi yang bersumber dari luar individu.

Menurut Nasution (1994: 9) menyatakan motivasi terdiri dari motivasi instrinsik adalah motivasi yang ditimbulkan dari dalam diri orang yang bersangkutan, tanpa rangsangan atau bantuan orang lain. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul oleh rangsangan dari luar. Motivasi instrinsik pada umumnya lebih efektif dalam mendorong seseorang untuk belajar dari pada motivasi ekstrinsik. Hal ini tentu memberi informasi yang sangat berharga bagi pendidikan.

3. Media Pembelajaran

a.    Pengertian Media

Di dalam pengajaran dikenal beberapa istilah seperti peragaan atau keperagaan. Tetapi dewasa ini istilah keperagaan ini telah mulai dipopulerkan dengan istilah media. Kata media berasal dari bahasa latin dan secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.

Arif. S. Sardiman (1999: 6) yang mengutip pendapat Gagne menyebut media “ berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar”. National Education Association ( NEA ) dalam abdul halim ( 2002: 11 ) mendefinisikan media sebagai “ benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan dan dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar “.

Senada dengan itu Ruseffendi ( 1993: 141 ) menyatakan bahwa “ Media merupakan alat bantu untuk mempermudah siswa memahami konsep matematika. Alat bantu itu dapat berwujud benda kongkrit, seperti : batu-batuan, dan kacang-kacangan. Untuk menerapkan konsep bilangan, kubus ( bendanya ) untuk memperjelas konsep titik, ruas garis, daerah bujur sangkar dan wujud dari kubus itu sendiri, serta benda-benda bidang beraturan untuk menerangkan konsep bangun datar dan bangun ruang “.

Pendapat-pendapat di atas memiliki kesamaan yaitu media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa, diharapkan hasil siswa belajar dapat ditingkatkan setelah menggunakan media.

b. Jenis-jenis Media

Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika pada tingkat sekolah dasar meliputu berbagai macam bentuk. Adapun jenis-jenis dari media adalah sebagai berikut :

a)        Benda asli yang berada dilingkungan siswa.

b)        Papan planel.

c)        Lambang bilangan.

d)       Dekak-dekak.

e)        Model bangun datar.

f)         Papan berpaku.

g)        Model bangun ruang menurut Wina Sanjaya ( 2006: 171) media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.

Agar penulisan laporan ini lebih terarah nantinya maka penulis akan membatasi tentang jenis media bangun ruang.

c. Pengertian Media Bangun Ruang

Bangun ruang adalah sejenis benda ruang beraturan yang memiliki rusuk, sisi dan titik sudut. Media bangun ruang menyerupai kotak, dengan bentuk massif, berongga, dan kerangka. Bentuk–bentuk bangun ruang sudah dikenal siswa dikelas V adalah kubus, balok, tabung, prisma, kerucut, limas, dan bola. Bentuk-bentuk tersebut akan dipelajari kembali di kelas VI dengan pembahasannya dititik beratkan pada penentuan luas pemukaan bangun ruang, seperti : kubus, balok dan tabung.

Untuk lebih jelasnya penulis akan menjelaskan pengertian bangun ruang satu persatu  Sartono Wirodikromo (2003:2) mendefinisikan kubus, balok, dan tabung sebagai berikut :

a)        Kubus yaitu sebuah benda ruang yang dibatasi oleh 6 bidang datar yang masing-masing berbentuk persegi yang sama dan sebangun atau kongruen. Yang mempunyai 6 sisi, 12 rusuk, dan 8 titik sudut serta diagonalnya sama panjang.

b)        Balok yaitu sebuah benda ruang yang dibatasi oleh 6 sisi datar yang masing-masing berbentuk persegi panjang, mempunyai 6 sisi, 12 rusuk, dan 8 titik sudut.

c)        Tabung yaitu sebuah benda ruang yang dibatasi oleh 2 sisi datar yang berbentuk lingkaran dan 1 sisi lengkung yang berbentuk persegi panjang.

d. Peranan Media Bangun Ruang di Dalam Pembelajaran Matematika

Selain untuk mengkongkritkan konsep yang terdapat dalam pembelajaran, media bangun ruang dapat berperanan untuk memudahkan siswa dalam menerima materi luas permukaan bangun ruang. Penggunaan media bangun ruang ini diharapkan dapat membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Dengan kata lain, penggunaan media bangun ruang dalam pembelajaran matematika dapat memperbesar minat dan perhatian siswa.

Arnis Kamar ( ( 2002:18 ) fungsi media bangun ruang dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut :

a)        Dengan adanya media siswa akan lebih banyak mengikuti pembelajaran matematika dengan gembira sehingga minatnya dalam mempelajari matematika semakin besar. Anak akan senang, terangsang, tertarik dan bersikap positif terhadap pembelajaran matematika.

b)        Dengan menyajikan konsep abstrak matematika dalam bentuk kongkrit, maka siswa pada tingkat yang lebih rendah akan lebih mudah memahami dan mengerti.

c)        Media dapat membantu daya titik ruang, karena tidak membayangkan bentuk-bentuk geometri terutama bentuk geometri ruang, sehingga dengan melalui gambar dan benda-benda nyata akan terbantu daya pikirnya agar lebih berhasil dalam belajar.

d)       Siswa akan menyadari hubungan antara pengajaran dengan benda-benda yang ada disekitarnya.

e)        Konsep abstrak yang tersaji dalam bentuk konkrit berupa model matematika dapat dijadikan objek penilaian.

Bedasarkan kutipan di atas maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media bangun ruang dalam pembelajaran matematika dapat membantu guru menjelaskan hal yang bersifat abstrak menjadi lebih konkrit sehingga siswa mudah belajar matematika.

Namun dalam pelaksanaan guru hendaknya memilih dan menggunakan media yang cocok untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa, sehingga siswa dapat terlibat secara fisik, mental dan sosial, dalam pembelajaran. Sejalan dengan pendapat para ahli di atas, penulis akan menggunakan bangun ruang dalam kegiatan pembelajaran luas pemukaan adalah sebagai berikut.:

a)        Mengamati model bangun ruang berongga, dan mode kerangka.

b)        Memberi nama bangun ruang, dan mengguankan media bangun ruang berongga untuk menunjukkan sisi.

c)        Menggunakan model kerangka untuk menunjukkan rusuk.

d)       Menghitung sisi, rusuk, dan titik sudut.

e)        Mengukur pada model bangun ruang pada : rusuk, panjang, lebar, tinggi, jari-jari dan diameter.

f)         Mencari luas sisi bangun ruang.

g)        Menemukan rumus luas permukaan kubus, balok, dan tabung, dan

h)        Membimbing siswa menggunakan rumus-rumus dan memberikan latihan-latihan.

Dengan menggunakan media siswa dapat termotivasi sebagaimana Ivas K. Davles  (1991: 215) jika seseorang telah termotivasi maka ia siap untuk melakukan hal-hal yang diperlukan sesuai dengan yang dikehendaki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

1.  Subjek Penelitian

Siswa yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas VI, yang berjumlah 26 orang pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 SD Negeri 2 Tusan.

2. Langkah-Langkah Penelitian

Proses penelitian tindakan merupakan kerja berulang atau (siklus), sehingga diperoleh pembelajaran dapat membantu siswa dalam menyelesaikan soal tentang luas pemukaan bangun ruang di kls VI. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus. Tiap siklus dilakukan 3 kali pertemuan. Pada setiap siklus terdapat rencana, tindakan, observasi dan refleksi.

Menurut Wardani ( 2002: 14) PTK adalah Penelitian yang dilakukan guru dalam kelasnya dan berkolaboratif antara peneliti dengan praktisi ( guru dan kepala sekolah ).

2.1  Siklus 1 :

Langkah-langkah yang digunakan adalah :

a)        Mengamati aneka bangun ruang.

b)        Memberi nama bangun ruang.

c)        Menggunakan media bangun ruang untuk menunjukkan sisi, rusuk, dan titik sudut.

d)       Menghitung sisi, rusuk, dan titik sudut.

e)        Megukur panjang, lebar, tinggi, diameter, dan jari-jari bangun ruang.

f)         Memberi nama sisi, rusuk dan titik sudut.

g)        Mencari luas sisi-sisi bangun ruang.

h)        Menemukan rumus luas pemukaan bangun ruang.

i)          Latihan.

2.2  Siklus 2 :

Langkah-langkah yang digunakan adalah :

a.   Mengamati jaring-jaring bangun ruang.

b.   Mengukur panjang masing-masing rusuk.

c.   Memberi nama sisi pada jaring-jaring bangun ruang.

d.   Menggunting jaring-jaring bangun ruang.

e.   Membentuk beberapa macam model jaring-jaring bangun ruang.

f.    Mengelompokkan sisi-sisi yang sebangun.

g.   Mencari luas masing-masing sisi.

h.   Menjumlahkan semua sisi.

i.    Menggunakan rumus pencari luas pemukaan bangun ruang untuk menyelesaikan latihan.

Langkah-langkah PTK pada Siklus I dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Siklus I

1. Rencana

Menyediakan perangkat penelitian meliputi:

–    Rencana pembelajaran yang berisikan tentang :

(a). Pokok Bahasan, Sub Poko Bahasan

(b). Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

(c). Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

(d). Sumber / Alat / Metode

(e). Penilaian

–       Lembar Observasi murid

–       Lembar Kerja Siswa

2. Pelaksanaan Tindakan

–      Meragakan aneka bangun ruang

–      Menggunakan model bangun ruang berongga untuk menunjukkan sisi, dan titik sudut. Model kerangka untuk menunjukkan rusuk.

–   Lima orang siswa kelas bergantian menghitung sisi, rusuk dan titik sudut dari model-model bangun ruang.

–       Lima orang siswa ke depan kelas bergantian untuk menunjukkan rusuk, panjang, lebar, tinggi, jari-jari, dan diameter dari masing-masing bangun ruang.

–       Lima orang siswa ke depan kelas mengukur rusuk, panjang, lebar, tinggi, jari-jari, dan diameter bangun ruang.

–       Siswa mencari luas permukaan sisi bangun ruang.

–       Melalui bimbingan guru siswa menemukan rumus luas permukaan kubus, balok dan tabung.

–       Mengerjakan latihan dengan menggunakan rumus luas permukaan kubus, balok dan tabung.

3. Observasi

Pengamatan yang dilakukan pada siswa dalam menggunakan media bangun ruang adalah dengan menyediakan lembar pengamatan tentang :

Kegiatan Siswa, pada :

1. Pendahuluan

meliputi :

(a)   Melengkapi alat tulis

(b)   Mengerjakan PR

2.    Kegiatan inti

Meliputi :

(a)   Memperhatikan uraian guru

(b)   Mengerjakan latihan tepat waktu

(c)   Mengerjakan latihan dengan memahami rumus

(d) Berani bertanya

(e)   Berani menjawab pertanyaan guru

(f)   Kurang memperhatikan seperti bercanda, minta izin.

3.    Penutup

Meliputi : merangkum pelajaran.

  1. 4. Hasil Belajar

Observasi yang dilakukan terhadap hasil belajar siswa adalah :

  • Mendata hasil belajar siswa yang sudah mencapai hasil ≥ 6,5 dan yang belum mencapai 6,5.
  • Menemukan kesulitan siswa dalam memahami dan menggunakan rumus luas pemukaan bangun ruang.
  1. 5. Analisa

Bedasarkan kegiatan siswa dan hasil belajar siswa, maka hasil analisa peneliti dapat digambarkan pada refleksi.

6.    Refleksi

Berkaitan dengan hasil observasi tentang kegiatan dan hasil belajar siswa di atas maka penelitian berkolaborasi dengan pengamat dan menetapkan :

  • Apa yang telah dicapai siswa dalam menggunakan rumus luas pemukaan bangun ruang.
  • Apa yang belum dicapai siswa dalam menggunakn rumus-rumus bangun ruang.
  • Apa yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran dalam siklus berikutnya.

b. Siklus II

1. Rencana

Menyediakan perangkat penelitian meliputi:

–       Rencana pembelajaran yang berisikan tentang :

(a). Pokok Bahasan, Sub Poko Bahasan

(b). Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

(c). Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

(d). Sumber / Alat / Metode

(e). Penilaian

–    Lembar Observasi murid

–       Lembar Kerja Siswa

 

2. Pelaksanakan Tindakan

–       Siswa meletakkan jaring-jaring bangun ruang yang dibawa dari rumah masing-masing.

–       Siswa menukar jaring-jaringnya dengan teman sebangku.

–       Memperhatikan jaring-jaring bangun ruang yang dipajang guru di depan.

–       Masing-masing siswa mengukur panjang masing-masing rusuk bangun ruang.

–       Siswa menggunting jaring-jaring bangun ruang.

–       Siswa mampu membentuk model jaring-jaring bangun ruang.

–       Siswa mengelompokan sisi-sisi yang sama dan sebangun.

–       Siswa mengerjakan perintah guru.

–       Guru membimbing siswa menggunakan rumus.

3. Observasi

Pengamatan yang dilakukan pada siswa dalam menggunakan media bangun ruang adalah dengan menyediakan lembar pengamatan tentang :

Kegiatan Siswa, pada :

1.    Pendahuluan

Meliputi :

(a)   Melengkapi alat tulis

(b)   Mengerjakan PR

2. Kegiatan inti

Meliputi :

(a)   Memperhatikan uraian guru

(b)   Mengerjakan latihan tepat waktu

(c)   Mengerjakan latihan dengan memahami rumus

(d)   Berani bertanya

(e)   Berani menjawab pertanyaan guru

(f)   Kurang memperhatikan seperti bercanda, minta izin.

3. Penutup

Meliputi : merangkum pelajaran.

4. Refleksi

Melalui hasil kolaborasi peneliti dengan pengamat serta hasil observasi maka peneliti menetapkan langkah berikutnya.

BAB IV

PENUTUP

1.      Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dalam proses pembelajaran Matematika dengan penggunaan media Bangun Ruang dalam upaya peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VI SD dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1)             Proses pembelajaran  Matematika dengan penggunaan media Bangun Ruang dapat ditingkatkan secara signifikan.

2)             Proses pembelajaran  Matematika dengan penggunaan media Bangun Ruang dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar Matematika.

3)             Proses pembelajaran  Matematika dengan penggunaan media Bangun Ruang dapat membantu siswa untuk mengkongkritkan konsep yang terdapat dalam pembelajaran matematika dan untuk memudahkan siswa dalam menerima materi luas permukaan bangun ruang.

2.       Saran

Berkaitan dengan temuan dalam penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :

1)             Siswa kurang mampu menggunakan model bangun ruang berongga untuk menunjukkan sisi dan titik sudut, sehingga guru diharapkan aktif membimbing siswa selama proses pembelajaran.

2)             Dengan adanya media siswa akan lebih banyak mengikuti pembelajaran matematika dengan gembira sehingga minatnya dalam mempelajari matematika semakin besar. Anak akan senang, terangsang, tertarik dan bersikap positif terhadap pembelajaran matematika.

DAFTAR PUSTAKA

 

Darmansyah. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. UNP

Sukahar. 1995. Matematika SD kelas VI. Jakarta: Depdikbud

Sulardi. 1996. Luas Bangun Datar. Jakarta: Erlangga

Tim Penulis. 1994. GBPP Kelas VI. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar.

Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s